UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI GEL EKSTRAK ETANOL DAUN ANGSANA (Pterocarpus indicus Willd.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus

  • Nelly Suryani Djamain UIN Jakarta
  • Vivi Anggia UIN Jakarta
  • Nia Fachrunisa UIN Syarif Hidayatullah
Keywords: Ekstrak Etanol Daun Angsana, Staphylococcus aureus, gel

Abstract

Angsana leaves (Pterocarpus indicus Willd.) contain flavonoids, saponins, tannins, alkaloids, glycosides, triterpenoids, and steroids can be used as an active substances that formulated into antibacterial formulation gel. In this study, ethanolic extracts of Angsana leaves are formulated into gel form to optimize the antibacterial activity from the extracts. The purpose of this study belongs to determine the differences antibacterial activity of ethanolic extracts of Angsana leaves before and after being formulated into gel form. Antibacterial activity test was determined by using disc diffusion method due to Kirby-Bauer method. Based on the results, it showed that formulation contains 0.09 mg extract formed 8 mm inhibition zone and 9 mg extract without formulation formed 16 mm inhibition zone. By comparing the amount of extracts to the inhibitory zone, it is known that extract which formulated into a gel form has greater activity than extract without formulated.    

Author Biography

Vivi Anggia, UIN Jakarta
Daun angsana (Pterocarpus indicus Willd.) mengandung flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, glikosida, triterpenoid, dan steroid yang dapat berperan sebagai zat aktif untuk diformulasikan ke dalam bentuk sediaan gel antibakteri. Pada penelitian ini dibuat formulasi ekstrak etanol daun angsana ke dalam bentuk sediaan gel untuk mengoptimalkan aktivitas antibakteri yang dikandung oleh ekstrak. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun angsana sebelum dan sesudah diformulasikan ke dalam bentuk gel. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram mengikuti metode Kirby-Bauer. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak yang dikandung dalam sediaan sebesar 0,09 mg menghasilkan zona hambat sebesar 8 mm. Sedangkan sebanyak 9 mg ekstrak tanpa formulasi menghasilkan zona hambat sebesar 16 mm. Berdasarkan hasil perbandingan jumlah ekstrak dengan zona hambat yang dihasilkan pada uji aktivitas antibakteri, diketahui bahwa ekstrak yang diformulasikan ke dalam bentuk sediaan gel memiliki aktivitas yang lebih besar dibandingkan sebelum diformulasikan menjadi gel.

References

McCaig L.F., et al. 2006, Staphylococcus aureus-associated Skin and Soft Tissue Infections in Ambulatory Care, Emerging Infectious Disease 12(11):1715–1723.

Khorvash F., Abdi F., Kashani H.H. 2012. Staphylococcus aureus in Acne Pathogenesis : A Case ‑ Control Study. North American Journal of Medical Sciences 4(11).

Madelina W. dan Sulistiyaningsih. 2018. Review : Resistensi Antibiotik pada Terapi Pengobatan Jerawat. Farmaka 16(2):105–117.

Aditias, Kiki Nur. 2013. Uji Hipoglikemik Ekstrak Etanolik Daun Angsana (Pterocarpus indicus Willd.) pada Kelinci Jantan Terbebani Glukosa dengan Pembanding Glibenklamid secara Spektrofotometri Visible. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Thomson L.A.J. 2006. Species Profiles for Pacific Island Agroforestry. www.traditionaltree.org (28 Januari 2019).

Fatimah C, Harahap U, dan Sinaga I. 2006. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Angsana (Pterocarpus indicus Willd) secara In Vitro. Tesis. Universitas Tjut Nyak` Dhien.

Kementerian Kesehatan RI. 2014. Farmakope Indonesia Edisi Kelima. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Dew N, Edsman K, dan Björk E. 2011. Novel gel formulations with catanionic aggregates enable prolonged drug release and reduced skin permeation. Journal of Pharmacy and Pharmacology 63:1265–1273.

Departemen Kesehatan RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Siregar, SF. 2009. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol dan Air Rebusan Kulit Batang Ingul (Toona sinensis M. Roem) terhadap beberapa Bakteri. Universitas Sumatera Utara.

Sari R dan Isadiartuti. 2006. Studi Efektivitas Sediaan Gel Antiseptik Tangan Ekstrak Daun Sirih (Piper betle Linn.). Majalah Famasi Indonesia 17(4):163–169.

Sari R., Nurbaeti S.N., dan Pratiwi L. 2016. Optimasi Kombinasi Karbopol 940 dan HPMC terhadap Sifat Fisik Gel Ekstrak dan Fraksi Metanol Daun Kesum (Polygonum minus Huds.) dengan metode Simplex Lattice Design. Pharmaceutical Sciences and Research 3(2):72–79.

Efendi, Nurullaili Y., dan Hertiani T. 2013. Antimicrobial Potency of Ant-Plant Extract (Myrmecodia tuberosa Jack.) against Candida albicans, Escherechia coli, and Staphlococcus aureus. Traditional Medicine Journal 18:53–58.

Departemen Kesehatan RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Voight, Rudolf. 1994. Buku Pengantar Teknologi Farmasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Davis W.W. dan Stout T.R. 1971. Disc Plate Method of Microbiological Antibiotic Assay. American Society for Microbiology 22(4):659–65.

Published
2020-05-30
How to Cite
1.
Djamain N, Anggia V, Fachrunisa N. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI GEL EKSTRAK ETANOL DAUN ANGSANA (Pterocarpus indicus Willd.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus. JIFI [Internet]. 30May2020 [cited 16Jul.2020];3(1):124 -131. Available from: http://jiis.akfar-isfibjm.ac.id/index.php?journal=JIFI&page=article&op=view&path[]=488